Monday, 23 December 2013

[REVIEW] Fatal Frame II: Crimson Butterfly


Bagi Anda yang menyenangi game-game horror, mungkin sudah tidak asing lagi dengan game Fatal Frame atau yang lebih dikenal sebagai Project Zero di Jepang ini. Game survival horror hasil garapan Tecmo yang satu ini disebut-sebut sebagai salah satu game paling menakutkan oleh beberapa majalah gaming. Dan kali ini, saya akan membahas game kedua dari franchise Fatal Frame, yakni Fatal Frame II: Crimson Butterfly.

Fatal Frame II: Crimson Butterfly bercerita mengenai dua saudara kembar, Mio dan Mayu Amakura. Mayu yang berjalan pincang karena sebuah kecelakaan ketika ia masih kecil, mengikuti sebuah kupu-kupu yang misterius. Kupu-kupu tersebut membawa Mayu dan Mio ke sebuah desa yang hilang bernama All God's Village. Desa ini memiliki sebuah ritual bernama crimson sacrifice ritual, dimana seorang anak harus membunuh saudara kembarnya. Mio dan Mayu pun harus keluar dari desa yang kini telah dipenuhi oleh roh-roh jahat tersebut. Jika tidak, maka salah satu dari mereka harus dikorbankan.


Gameplay yang ditawarkan memang mirip dengan game sebelumnya, meskipun dengan sedikit perubahan dan beberapa update. Kamera Obscura, satu-satunya senjata yang dapat digunakan gamer untuk melawan para roh jahat ini, dilengkapi dengan filament unik yang dapat menyala merah ketika gamer berada di dekat roh yang jahat. Sedangkan jika gamer berada di dekat roh yang tidak jahat, maka akan menyala biru. Selain itu, ada banyak special film type dan lensa yang dapat ditemukan oleh gamer di berbagai tempat. Fungsinya untuk meningkatkan kemampuan kamera Obscura dalam melawan roh-roh jahat. Tidak seperti game sebelumnya, kemampuan kamera Obscura dalam mengusir para roh juga didasari dari jarak antara gamer dengan roh yang menjadi target.


Sayangnya, gamer tidak dapat memilih karakter mana yang ingin dimainkan. Mio satu-satunya karakter yang dapat terus dimainkan oleh gamer. Untuk beberapa bagian, gamer memang dapat memainkan Mayu, hanya saja porsinya sedikit. Meskipun begitu, game ini juga asyik untuk dimainkan berulang-ulang, karena ada tiga jenis ending berbeda yang bisa didapatkan oleh gamer.

Jujur, saya sering merasa parno ketika memainkan game ini, apalagi ketika memainkannya saat malam hari. Mungkin karena atmosfer yang dihadirkan cukup gelap dan mampu membuat bulu kuduk merinding. Selain itu, munculnya para roh yang tiba-tiba di beberapa tempat yang tidak terduga, juga mampu membuat saya kaget. Meskipun Fatal Frame II: Crimson Butterfly tidak didasari dari kisah nyata, seperti game sebelumnya, tapi Tecmo mampu menghadirkan sebuah game yang menakutkan, tapi tetap menghibur.

Developer: Tecmo
Publisher: Ubisoft
Platform: PlayStation 2
Score: 4/5 stars

Saturday, 21 December 2013

[REVIEW] Beyond: Two Souls


Tahun 2013 merupakan akhir dari era PlayStation 3 juga konsol generasi 7 lainnya. Oleh karena itulah, Sony Computer Entertainment merilis beberapa game eksklusif untuk PlayStation 3 sebagai ajang untuk menutup buku dari konsol populer yang hingga kini telah terjual lebih dari 80 unit ini. Salah satu dari game eksklusif tersebut adalah Beyond: Two Souls. Game ini digarap oleh Quantic Dream, yakni sebuah game developer asal Prancis yang khusus membuat game-game interactive.

Beyond: Two Souls sendiri bercerita mengenai Jodie Holmes (Ellen Page) yang sejak lahir memiliki kemampuan supernatural dimana Jodie memiliki sebuah entity yang selalu menemaninya bernama Aiden. Karena dianggap aneh oleh orangtuanya, Jodie pun ditinggalkan di sebuah Department of Paranormal Activity atau DPA, yaitu sebuah departemen fiksi yang menangani dan melakukan penelitian mengenai Infraworld. Selama berada di sana, Jodie cukup dekat dengan dua orang researcher, yakni Nathan Dawkins (Willem Dafoe) dan Cole Freeman (Kadeem Hardison).


Beyond: Two Souls mengusung gaya penceritaan yang cukup unik, yakni menggunakan narrative nonlinear, mirip dengan film Inception. Oleh sebab itulah, gamer seakan diajak masuk ke dalam sebuah mesin waktu, yang memungkinkan gamer untuk melihat kehidupan Jodie, baik di masa lalu maupun di masa sekarang dalam kurung waktu lebih dari 15 tahun. Game ini juga turut menawarkan sebuah plot yang menggali salah satu pertanyaan semua umat manusia, yakni apa yang terjadi setelah kematian. Meskipun pencarian jawaban mengenai pertanyaan itu dapat digali dengan cukup baik, saya menanggap beberapa plot dalam Beyond: Two Souls rasanya kurang konsisten dan cenderung melenceng dari maksud dan tujuan game ini yang sebenarnya.


Sebagai sebuah game interactive, game ini memang melibatkan gamer dalam hampir setiap hal. Gamer juga diberi kebebasan untuk memainkan karakter Jodie maupun Aiden. Dan bila dibandingkan dengan Heavy Rain, salah satu game interactive yang juga merupakan garapan Quantic Dream, Beyond: Two Souls memang jauh lebih membebaskan para gamer, meskipun masih menjunjung tinggi feature Quick Time Events yang sama. Genre drama dan action yang ditawarkan juga disatukan dengan cukup baik oleh David Cage, selaku orang berjasa di balik game ini.

Teknologi motion capture yang ditawarkan juga digarap dengan baik sehingga tampak begitu mengesankan. Ketika memainkan game ini, saya merasa seperti ikut serta dalam sebuah film, hanya saja keikutsertaan saya berada dalam tubuh Ellen Page. Kepercayaan yang diberikan Quantic Dream kepada Ellen Page, untuk menjadi model motion capture dan voice actress karakter Jodie Holmes ternyata dapat ia lakukan dengan sangat baik. Ia berhasil membuat karakternya tampak begitu menarik, bahkan ketika karakternya menjadi seorang gelandangan sekalipun. Tak heran, ia berhasil mendapatkan nominasi Best Voice Actress dalam sebuah ajang penghargaan VGX yang digelar Spike TV.

Beyond: Two Souls memang menarik untuk dimainkan. Gameplay yang ditawarkan terkesan berbeda dari game lainnya tetapi menyenangkan untuk kita jajal. Hanya saja, tidak konsistennya plot yang dihadirkan sedikit mencoreng game ini. Meskipun begitu, game ini masih layak untuk dimainkan.

Developer: Quantic Dream
Publisher: Sony Computer Entertainment
Platform: PlayStation 3
Score: 4.5/5 stars

Friday, 13 December 2013

[REVIEW] Resident Evil 3: Nemesis


Saya adalah penggemar berat franchise game Resident Evil, atau yang dikenal sebagai Biohazard di Jepang. Oleh karena itulah, sebuah keharusan bagi saya untuk menuliskan resensi dan berbagi pengalaman saya selama memainkan salah satu franchise game paling sukses dari Capcom ini. Tapi untuk kali ini, saya hanya akan menulis mengenai game ketiganya, yaitu Resident Evil 3: Nemesis.


Awal game dibuka dengan opening scene yang cukup menjanjikan. Kita diberikan pengetahuan mengenai asal mula dan kehancuran apa yang terjadi di Raccoon City.
Dalam Resident Evil 3: Nemesis, gamer akan memainkan karakter Jill Valentine, salah satu anggota S.T.A.R.S yang juga pernah selamat dari Mansion Incident dalam game debutnya. Hampir sama seperti game sebelumnya, Jill berusaha untuk menyelamatkan diri dan kabur dari Raccoon City yang kabarnya akan segera dihancurkan. Tapi misi penyelamatan diri ini tidak berjalan dengan mulus. Jill dihadapkan dengan warga Raccoon City yang berubah menjadi zombie, serta salah satu tyrant cerdas buatan Umbrella, Nemesis, yang ditugaskan untuk membunuh semua anggota S.T.A.R.S termasuk Jill sendiri.


Sedikit bocoran, Jill Valentine bukan satu-satunya karakter yang playable dalam game ini. Kita juga akan memainkan Carlos Olivera, seorang tentara bayaran yang awalnya disewa oleh Umbrella untuk menyelamatkan penduduk sipil yang belum terinfeksi t-Virus di Raccoon City. Tapi karena tidak menemukan penduduk yang selamat, Carlos beserta rekan-rekannya pun berniat untuk menyelamatkan diri setelah mendengar kabar bahwa Raccoon City akan dihancurkan.

Resident Evil 3: Nemesis adalah game yang sempurna di mata saya sebagai penggemar franchise gamenya. Game ini mampu menghadirkan plot yang solid dan dapat digarap dengan sangat apik. Gameplay yang ditawarkan pun juga sangat menarik, meskipun masih menjunjung tinggi akar gameplay yang sama seperti Resident Evil 2. Salah satu hal yang saya sukai dari game ini adalah live selection yang akan muncul ketika kita menghadapi musuh. Live selection merupakan feature baru dalam game ini yang memberikan kesan unik dan mampu menambahkan tensi ketegangan. Sebagai gamer, kita bebas memilih selection apa yang kita anggap paling tepat, tapi perlu diketahui, bahwa setiap selection yang kita pilih, terdapat konsekuensi yang berbeda.


Hadirnya Nemesis sebagai musuh utama dalam game ini juga semakin membuat game ini menarik. Nemesis mempunyai kemampuan untuk lari serta menggunakan rocket launcher sebagai senjata utamanya. Nemesis juga dapat mengejar gamer dari satu tempat ke tempat yang lainnya dan akan tetap mengejar gamer meskipun gamer telah mengalahkannya, hal tersebut dikarenakan Nemesis merupakan salah satu boss yang berulang-ulang dalam game ini, sehingga menambah ketegangan dan mempertegas serta memperkuat game ini sebagai sebuah game survival yang benar-benar horror.


Selain ketegangan yang ditawarkan, ada banyak puzzle yang dihadirkan dalam game ini, tentunya dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Tapi puzzle yang paling saya sukai dari game ini adalah Sampel Air atau Water Sample. Puzzle ini benar-benar menguras otak gamer karena gamer harus melakukan pergeseran blok untuk menciptakan sebuah kombinasi tertentu.

Intinya, Resident Evil 3: Nemesis merupakan sebuah masterpiece yang wajib dimainkan oleh gamer, baik gamer yang menyenangi game-game survival horror maupun gamer yang hanya iseng memainkannya. Meskipun grafik dalam game ini bisa dikatakan ‘payah’ jika dibandingkan dengan game-game di jaman sekarang, tetapi Resident Evil 3: Nemesis masih mampu bertahan berkat plot dan gameplay yang baik dan masih sanggup membuat para gamer mendapatkan tensi ketegangan yang memuaskan.

Developer: Capcom
Publisher: Capcom
Platform: PlayStation
Score: 5/5 stars

Thursday, 12 December 2013

[REVIEW] DmC: Devil May Cry


Devil May Cry adalah sebuah franchise game garapan Capcom yang bisa dikatakan sukses besar. Sejak di awal kemunculannya di konsol PlayStation 2, franchise ini telah memikat hati banyak gamer. Salah satu hal yang membuat gamer terpikat dengan game ini tentu saja adalah karakter utamanya, Dante, sang demon hunter. Kini, saya hanya akan membahas versi reboot dari game ini saja yang dirilis di awal tahun 2013 lalu, yakni DmC: Devil May Cry atau juga sering disebut Devil May Cry 5.

Ada beberapa hal yang berubah dalam versi reboot ini. Yang paling signifikan adalah penampilan atau desain karakter Dante yang berubah drastis. Dante yang dulu tampil dengan rambut berwarna putih, kini memiliki rambut berwarna hitam. Ada banyak pro dan kontra dari para penggemar franchise Devil May Cry mengenai perubahaan ini, tapi jika saya boleh berpendapat, saya lebih menyukai penampilan Dante yang sekarang. Selain itu, dalam versi terdahulunya, Dante memiliki latar belakang dari seorang ayah iblis dan seorang ibu manusia. Sedangkan dalam versi reboot, Dante merupakan anak dari cinta terlarang antara seorang iblis bernama Sparda, dan seorang malaikat bernama Eva. Latar belakang tersebutlah yang membuat Dante memiliki ras Nephilim atau yang sering disebut sebagai "third race". Siapa saja yang memiliki ras ini dianggap membahayakan bangsa iblis, karena hanya seseorang yang memiliki ras Nephillim sajalah yang bisa membunuh Mundus, raja iblis.


Bagi orang yang kurang familiar dengan Devil May Cry, mungkin akan tertipu dengan tampilan grafis yang terkesan serius dari game ini. Padahal inti dari game ini adalah having fun, karena gamer dibebaskan untuk bersenang-senang menebas dan menembaki para iblis.
Game ini memiliki penekanan yang lebih selain terhadap iblis juga latar dari game ini sendiri, di mana Limbo City, kota yang dikuasai oleh iblis dan dihuni oleh manusia-manusia yang telah dicuci otaknya, selain sebagai latar juga menjadi salah satu musuh terbesar Dante.


Ada banyak hal yang saya senangi dari game ini, mulai dari plot yang dibuat dengan apik, gameplay yang asyik, juga para boss yang saya anggap menarik. Salah satu boss dari game ini yang paling saya sukai adalah Succubus, yakni iblis berusia 1.200 tahun yang merupakan 'secret ingredient' sebuah produk minuman fiktif, Virillity. Minuman inilah yang membuat manusia menjadi lemah dan mudah dikendalikan oleh iblis. Alasan saya menyukai Succubus karena tutur bahasanya yang kasar. Memang aneh, tapi menurut saya, itulah daya tarik yang membuat Succubus menjadi salah satu boss terbaik, selain sang boss utama, Mundus.


DmC: Devil May Cry adalah sebuah game reboot yang berhasil digarap dengan sangat baik oleh Ninja Theory, selaku developer. Game ini berhasil menjadi sarana hiburan yang efektif di waktu senggang, berkat gameplay yang addictive. Meskipun banyak penggemar lama yang mempermasalahkan penampilan baru Dante, tapi sebenarnya baik buruknya penampilan Dante tidak terlalu berpengaruh terhadap kualitas game ini.

Developer: Ninja Theory
Publisher: Capcom
Platform: PlayStation 3
Score: 4.5/5 stars